Ayat Kauniyah Itu Bernama Covid-19

Oleh Drs. Yunus Busa, M.Si. (Plt. Rektor Universitas Muhammadiyah Enrekang)

Opini, ummaspul.ac.id — Ayat Kauniyah, yaitu ayat-ayat dalam bentuk segala ciptaan Allah berupa alam semesta dan semua yang ada didalamnya. Ayat-ayat ini meliputi segala macam ciptaan Allah, baik itu yang kecil (mikrokosmos) ataupun yang besar (makrokosmos). Bahkan diri kita baik secara fisik maupun psikis juga merupakan ayat kauniyah. Ayat kauniyah ini sering juga disebut dengan fenomena alam.

Kewajiban Kita terhadap Ayat-ayat Allah

Setelah kita mengetahui bentuk ayat-ayat Allah, yang menjadi penting untuk dipertanyakan adalah apa yang harus kita lakukan terhadap ayat-ayat tersebut. Atau dengan kata lain, apa kewajiban kita terhadap ayat-ayat tersebut?. Dan jawabannya ternyata hanya satu kata: iqra’ (bacalah, kajilah, telitilah), dan inilah perintah yang pertama kali Allah turunkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sekaligus menjadi pondasi Iptek dalam pandangan Islam.

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran qalam. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS Al-‘Alaq: 1-5).

Lalu bagaimana kita membaca ayat-ayat Allah? Jawabannya ada pada dua kata: Tadabbur dan Tafakkur. Terhadap ayat-ayat qauliyah, kewajiban kita adalah tadabbur, yakni membacanya dan berusaha untuk memahami dan merenungi makna dan kandungannya.

“Al-Qur’an ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan keberkahan agar mereka menadabburkan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran bagi orang-orang yang mau berpikir.” (QS. Shad: 29).

Sedangkan terhadap ayat-ayat kauniyah, kewajiban kita adalah tafakkur, yakni memperhatikan, merenungi, dan mempelajarinya dengan seksama. Dan untuk melakukan dua kewajiban tersebut, kita menggunakan akal pikiran dan hati yang telah Allah karuniakan kepada kita.

Mengenai kewajiban tadabbur, Allah memberikan peringatan yang sangat keras kepada orang yang lalai melakukannya. Allah berfirman dalam QS Muhammad ayat 24: “Maka apakah mereka tidak mentadabburi Al Quran ataukah hati mereka terkunci?”. Dan mengenai kewajiban tafakkur, Allah menjadikannya sebagai salah satu sifat orang-orang yang berakal (ulul albab). Dalam QS Ali ‘Imran ayat 190 – 191, Allah berfirman:

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka mentafakkuri (memikirkan) tentang penciptaan langit dan bumi (lalu berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan semua ini dengan sia-sia; Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”

Tujuan Membaca Ayat-ayat Allah

Tujuan utama dan pertama kita membaca ayat-ayat Allah adalah agar kita semakin mengenal Allah (ma’rifatullah). Dan ketika kita telah mengenal Allah dengan baik, secara otomatis kita akan semakin takut, semakin beriman, dan semakin bertakwa kepada-Nya. Karena itu, indikasi bahwa kita telah membaca ayat-ayat Allah dengan baik adalah meningkatnya keimanan, ketakwaan, dan rasa takut kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Yang semestinya terjadi pada diri kita setelah kita membaca ayat-ayat qauliyah adalah sebagaimana firman Allah berikut ini: “Dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.” (QS Al-Anfal: 2). Selanjutnya yang semestinya terjadi pada diri kita setelah kita membaca ayat-ayat kauniyah adalah sebagaimana firman Allah berikut ini: “Dan mereka mentafakkuri (memikirkan) tentang penciptaan langit dan bumi (lalu berkata): ‘Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan semua ini dengan sia-sia; Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS Ali ‘Imran: 191).

Adapun dengan memahami ketentuan penciptaan, baik itu mengenai alam maupun sejarah dan ihwal manusia, kita akan mampu memanfaatkan alam dan sarana-sarana kehidupan untuk kemakmuran bumi dan kesejahteraan umat manusia. Dengan pemahaman yang baik mengenai ketentuan tersebut, kita akan mampu mengelola kehidupan tanpa melakukan perusakan.

Kalau kita memperhatikan ayat qauliyah, yakni Al-Qur’an, kita akan mendapati sekian banyak perintah dan anjuran untuk memperhatikan ayat-ayat kauniyah. Diantara sekian banyak perintah tersebut adalah firman Allah dalam QS Adz-Dzariyat ayat 20-21: “Dan di bumi terdapat ayat-ayat (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin. Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?”.

Siapa masih merasa paling digdaya? Apakah ada saat ini yang tetap angkuh kuasa sebagai sosok-sosok perkasa? Egois hanya memikirkan ekonomi dan investasi. Berselancar kegaduhan di ruang publik. Padahal, seluruh dunia terkunci mati oleh Covid-19 yang menjelma jadi pandemi.

Dunia tidak menyangka pandemi ini meruntuhkan segala kemapanan di jagat raya. Negeri sebesar Tiongkok, Amerika Serikat, Italia, Jerman, Prancis, Spanyol, dan negara-negara maju yang memiliki segalanya tiba-tiba jatuh diri. Mereka dilucuti kedaulatannya hingga harus memutar otak menghadapi makhluk Tuhan yang sangat kecil dan mematikan itu.

Disorientasi Kosmologis

Dalam kuasa Allah, tidak ada satu kejadian di alam semesta yang lepas dari qadrat-iradat-Nya. Semua berada dalam garis sunatullah yang diciptakan-Nya. Allah berfirman, yang artinya: “Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah dan barang siapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (at-Taghabun: 11).

Nabi Muhammad SAW mengingatkan musibah wabah (al-tha’un) sebagai peringatan penting bagi manusia sekaligus perlu karantina diri dan sosial (HR al-Bukhārī).

Boleh jadi dalam sistem kehidupan saat ini, di negeri tercinta dan ranah dunia, manusia sudah lama terasing dan kerdil diri. Orang sekuler terlalu percaya diri pada rasio, iptek, dan sistem yang mereka bangun atas dasar humanisme belaka.

Mereka melupakan Tuhan dengan segala kemahakuasaan-Nya dan anugerah seluruh ciptaan-Nya. Sunatullah hanya dipahami sebatas hukum alam. Agama dianggap sumber ketertinggalan dan masalah sehingga menjadi agnotik. Sebagian bahkan bangga menjadi anti-Tuhan atau ateis karena merasa diri otonom dengan otak dan ilmunya tanpa perlu Tuhan dan agama.

Para penguasa dunia merasa digdaya dengan sistem politik, ekonomi, budaya, dan sistem kehidupan lainnya yang menjadi acuan. Baik yang berpangkal pada sosialisme maupun kapitalisme yang rakus dan arogan. Semua hal dikendalikan sepenuhnya dengan hitung-hitungan indrawi dan duniawi belaka. Mengeksploitasi sesama manusia, hewan, tumbuhan, dan alam menjadi tabiatnya tanpa rasa cukup dan memperhatikan kepentingan yang luhur.

Jutaan manusia termiskinkan dan alam pun dieksploitasi tanpa batas sehingga terjadi kebakaran hutan, banjir, dan kerusakan ekosistem yang masif. Di mana salah satu yang kita hadapi saat ini, yaitu pandemi Cobid-19.

Kemajuan iptek dan infrastruktur menjadi keangkuhan baru. Lebih-lebih dengan kehadiran teknologi informasi dan revolusi 4.0 yang sarat ketakjuban dan membuat banyak manusia menjadi budaknya. Manusia dihargai hanya dari ukuran benda dan teknologi yang instrumental itu.

Ekonomi dan legasi fisik didewakan. Pendidikan, kebudayaan, spiritual, bahkan pemerintahan dan keagamaan disubordinasikan oleh hegemoni dunia teknologis yang robotik itu. Ibarat bangunan struktur dunia tampak kokoh dan megah, tapi ringkih dan rapuh fondasinya.

Akibatnya manusia modern mengalami kesenjangan kebudayaan atau cultural-lag (istilah William Ogburn), disorientasi, dan kejutan kebudayaan atau cultural shock (istilah Alvin Toffler), dan anomie atau anomali dalam referensi para sosiolog.

Uang, teknologi, infrastruktur, investasi, materi, keuntungan, kedudukan, kesenangan indrawi, serta segala hal yang bersifat materi dan fisik menjadi serba didewakan dalam nalar pragmatis dan instrumentalis.

Dunia dipandang sebatas telunjuk dan mata kuda sehingga hilang kesadaran kosmologisnya yang melintas batas semesta. Negara dan rakyat pun diurus dalam alfabet pola pikir pragmatis dan instrumentalis itu minus visi kenegarawanan yang mencukupi, apalagi visi kosmologis yang melintasi!

Di tengah gelombang krisis, sering sebagian manusia masih tetap dungu dan angkuh diri. Hatta mereka yang mengaku beriman, berakal pikiran, dan berilmu. Lebih-lebih mereka yang merasa berkuasa.

Mereka seolah mati kesadarannya sebagaimana firman Allah yang artinya: “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai” (al-‘Araf: 179).

Orientasi Baru

Dari sudut akal sehat dan ilmu pengetahuan sebab dan bahaya Covid-19 itu faktual dan objektif, bukan ilusi dan konspirasi. Menyikapinya dengan ikhtiar merupakan jalan satu-satunya yang dibenarkan agama dan iptek serta bukan sikap paranoid.

Sebagai orang beriman dan berparadadigma Iqra, umat Islam harus mau menerima kenyataan tentang wabah dan musibah duniawi pada penjelasan keilmuan oleh ahlinya. Iman harus diletakkan sebagai fondasi yang kokoh dengan membuka diri pada khazanah ilmu. Seraya berusaha mencegah dan melakukan tindakan agar wabah makin terputus mata rantai penyebarannya dan akhirnya berhenti.

Hegemoni pandangan keagamaan yang literal-tekstual dan sikap konservatif mesti terkoreksi dengan pandemi ini. Dalil al-Quran dan sunah Nabi Muhammad SAW serta khazanah keilmuan Islam sangat kaya memberi jalan solusi menghadapi darurat global ini.

Pandangan tentang iman, tauhid, kematian, dan musibah yang sempit dan kaku tidak cukup memadai dalam situasi wabah yang mematikan ini. Paham puritan jangan membawa pada sikap diri paling bersih, semuci, dan egois dalam beragama. Bukankah Islam melarang ghuluw (ekstrem) dan tazakku (merasa paling suci) dalam beragama?

Orang Islam niscaya menggunakan akal pikiran dan ilmu pengetahuan. Selain iman dan tauhid yang substantif dan melintasi, umat dilarang sembarangan berpendapat dan bertindak tanpa ilmu. Siapa pun tidak perlu memaksakan diri seolah tahu segalanya bila memang tidak mengetahui sesuatu yang bukan keahliannya.

Allah mengingatkan: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (al-Isra’: 36).

Umat beriman penting rendah hati dan membangun kesadaran teologis yang melintasi. Kembangkan paham keagamaan yang berwawasan dakwah dan tajdid yang humanistik-profetik serta berwawasan kosmologis yang luas.

Kedepankan keagamaan yang menyeluruh dalam nalar interkoneksi bayani, burhani, dan irfani yang mencerahkan. Amar makruf dan nahi mungkar penting dibingkai dalam trilogi pendekatan Islam itu agar tidak hitam-putih, garang, dan jadi alat menghakimi orang lain sebagai lemah, zalim, dan tidak Islami.

Nabi Musa yang tegas dan keras sekalipun diajari Tuhan tentang hikmah dan metode lemah lembut dalam menghadapi arogansi Fir’aun, Qarun, dan Hamam (Thaha: 43-44).

Pemikiran dan sikap keagamaan niscaya memerlukan epistemologi dan orientasi kosmologis baru yang melintasi agar dapat memberi solusi alternatif yang kokoh sekaligus berkemajuan. Keberagamaan tidak digiring ke era abad tengah yang serba dogmatis sebagaimana terjadi di Eropa pra-abad pencerahan.

Umat tidak hidup dalam sangkar besi ortodoksi yang menurut Muhammad Abduh, Al-Islam mahjubun bil-msimin. Orang Islam sendiri yang menutupi sinar terang Islam sebagai agama pencerahan. Pada titik inilah pentingnya reorientasi arah pendidikan dan bagaimana upaya dari seluruh pemangku kepentingan, untuk dengan cara yang sungguh-sungguh memecahkan segudang persoalan yang ada, terlebih di tengah pandemi Covid-19 sekaligus momentum memperingati hari pendidikan nasional kali ini.

Pandemi mestinya menumbuhkan sikap keagamaan profetik cinta Tuhan yang berbanding lurus dengan cinta sesama, cinta alam, dan cinta kehidupan dalam risalah rahmatan lil’ alamin yang autentik dan melintas batas!

Note: Disampaikan pada kegiatan Webinar Nasional Tadarrus Pendidikan, Mengeja Pendidikan Kemarin, Hari ini dan Esok, yang dilaksanakan oleh Universitas Muhammadiyah Enrekang, tanggal 2 Mei 20020.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *